PESSEL, matasumbar.com – Kepolisian Resor Pesisir Selatan (Pessel), Sumbar membantah adanya pengejaran terkait meninggalnya salah seorang nelayan pukat harimau di Kecamatan Linggo Sari Baganti.
Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud), Iptu. R. Harisman, mengatakan, meninggalnya salah seorang nelayan itu akibat kelelahan berenang. Sebab, ketika itu pihaknya hanya melakukan patroli rutin.
“Tidak ada kami melakukan kejar-kejaran. Korban lari karena spontan saja. Korban kami lihat berenang ketepi sudah kelelahan, dan kamipun tidak bisa ketepi pantai, karena kapal patroli dari fiber” ungkapnya kepada matasumbar.com, Sabtu 18 Januari 2020.
Seperti diberitakan awak media sebelumnya, seorang Anak Buah Kapal (ABK) pukat harimau, Ujang BA, (55) , asal Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat tewas tenggelam saat razia Pol Airud setempat.
Wali Nagari (Kepala Desa) Muaro Gadang, kejadian berlangsung sekitar pukul 08.30 WIB. Ketika razia berlanhsung, korban langsung melompat dari kapalnya dan berupaya melarikan diri dengan berenang.
“Korban diduga meninggal akibat kelelahan berenang,” ungkapnya pada awak media di Painan, Minggu 12 Jajuari 2019.
Sejak puluhan tahun silam, para nelayan tradisional di Kecamatan Linggo Sari Baganti, Pessel. Berdasarkan catatan pemerintah daerah, populasinya mencapai ratusan unit.
Dalam razia kali ini, lanjut wali nagari, satu unit kapal nelayan berhasil ditangkap. Dari keterangan kolega korban, Dayat, 32 tahun, korban nekat melompat ke dalam laut.
Korban takut tertangkap karena razia dan berniat lari dengan berenang ketepi pantai. Namun, tanpa diduga, korban ditemukan dalam keadaan tewas di tepi pantai.
“Ia ditemukan nelayan lain sekitar pukul 09.30 WIB,”ucap wali nagari.
Ia menambahkan, usai ditemukan, warga dan nelayan setempat langsung melarikan korban ke Puskesmas setempat. Namun, kata pihak Puskesmas korban sudah meninggal dunia.
Kendati demikian, dengan kondisi dan peristiwa yang terjadi. Pihaknya, dari pemerintah nagari berharap, adanya solusi dari pemerintah daerah dan provinsi.
Dengan demikian, kejadian serupa tidak terus terjadi. Sebab, keberadaan pukat harimau sudah sangat mengkhawatirkan. Selain memakan korban jiwa, juga telah menimbulkan sebuah konflik sosial.
“Saya sangat berharap, kejadian ini tidak terulang lagi, kejar-kejaran antara aparat dan nelayan tidak lagi terjadi. Dari kejadian ini, setidaknya ada solusi bagi nelayan kita. Bagai mana nelayan kita bisa melangsungkan ekonominya tanpa harus berbenturan dengan hukum,”pintanya.
Secara terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Linggo Sari Baganti, Iptu. Hardiyasmar mengatakan, dari keterangan Emon, 50 tahun, salah seorang warga sekitar, korban meninggal bukan karena kejar-kejaran dengan aparat Polisi.
Akan tetapi, almarhum sudah lama menderita sakit jantung dan asma. Menurutnya, saat kapal belum sampai di tengah, korban sudah melihat adanya kapal patrloli Polisi.
“Jadi, setelah mereka melihat kapal patroli, kapal korban langsung berbalik arah dan seketika itu juga korban langsung terjun dan berenang ke tepian,”tutupnya. (Topit Marliandi)















