SIBERUT,MataSumbar.com – Matotonan terletak di Wilayah Sarereiket Hulu Kecamatan Siberut Selatan Kebupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, desa ini pertama kalinya dipimpin oleh Toegimin asal jawa tahun 1980 dimana sebelumnya disebut jorong dan kampung.
Saat ini usia Desa Matotonan sudah 40 tahun yang dipimpin Ali Umran Sarubei, dengan memasuki usia Desa seperti ini, pihak Desa melaksanakan berbagai kegiatan dalam memperingati hari jadi desa matotonan.
Dimasa kepemimpinan Ali Umran Sarubei memperingati hari jadi desa matotonan ini baru dilaksanakan yang kedua kalinya, yang dimulai sejak tahun 2019 dan 2020.
Terwujudnya pelaksanaan hari jadi desa matotonan ini di awali dari gagasan sejarah Desa oleh Badan Permusyawaratan Desa Matotonan sejak tahun 2014 yang digagas oleh Jon Efendi Sabulat dengan mengumpulkan kepala-kapala suku yang ada di Desa tersebut.
Kepala Desa Matotonan Ali Umran Sarubei mengatakan, peringatan hari jadi desa matotonan ini dilaksanakan yang kedua kali, adapun tujuan kegiatan ini agar masyarakat Desa Matotonan terlibat langsung kegiatan yang menjadi tradisi di desa ini.
“Tak hanya itu perputaran Dana Desa pun dilingkungan masyarakat itu sendiri berjalan, karena pada acara ini sekaligus dilakukan Pesta Adat yang disebut Liat Pulaggajat” sebut Ali Umran saat di konfirmasi matasumbar.com, Rabu 19 Agustus 2020.
Dalam agenda memperingati hari jadi desa matotonan di suguhkan berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang oleh panitia pelaksana seperti perlombaan menyampan, menangguk ikan, memanjat durian, menato badan (Pati’tik) turuk laggai, masak sagu kapurut, masak subbet, Pasoat, miniatur, souvenir, panahan, alat budaya lainnya dan lomba membuat uma sebagai rumah adat di desa mereka.
“Semua rangkaian kegiatan yang dipersiapkan itu telah disepakati bersama Pemerintah Desa dan BPD” sebut Ali Umran.
Lebih lanjut dikatakan Ali Umran pelaksanaan kegiatan hari jadi desa matotonan ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, semua kegiatan dirangkum dalam kebiasaan lokal desa.
Dia menyebut kegiatan dimulai 7 Agustus 2020 diawali dengan lia Siboitok (Pesta Kecil) dan dilakukan penyambutan tamu undangan dari rombongan Kecamatan dihadiri Camat Siberut Selatan, Hijon dan Keluarga.

Dalam kegiatan ini juga dihadiri dosen STKIP PGRI Sumatera Barat Ibu Zulfa, M. Pd, M. Hum Peneliti “ Arat Sabulungan” sekaligus pemberian buku hasil penelitiannya yang berjudul “ Mentawai dalam Wisata Adat dan Budaya”.
Kegiatan selanjutnya pada sesi liat Pulaggajat Camat Siberut Selatan Hijon melakukan pemotongan pita sebagai tanda peresmian 5 gedung pembangunan tahun anggaran 2019 yang bersumber dari dana ADD dan DD.
Dalam waktu yang bersamaan Jon Efendi (Penggagas Sejarah Desa) juga melounching Buku “Sejarah Budaya dan Ekowisata Desa Matotonan” dalam penukisan dibantu dari tim TRISAKTI Jakarta.
Buku ini berisi tentang mulai berdirinya sejarah desa muatan RPJM Desa 2018-2023, sejarah pembangunan desa, dan adat istiadat Desa Matotonan, ungkapnya.
Dia menjelaskan, berbicara soal tradisi dan modernisasi ada dua hal yang bertolak belakang dari kenyataan sebenarnya, disatu sisi matotonan yang terletak di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai yang baru saja melaksanakan Ulang tahun desa yang ke 40 tahun.
Tradisi harus tetap dipertahankan sementara keberadaan si pemilik tradisi sudah hampir punah. Hal ini menjadi suatu dilema bagi masyarakat desa Matotonan yang akan menjadikan budaya sebagai icon pariwisatanya, tutur Ali Umran.
“Hingga sampai saat ini, sikerei tercatat hanya tinggal 47 KK. Rata-rata usia mereka adalah 60-70 tahun. Sementara pewarisan sikerei tidak ada” ucapnya
Dia menyebut, generasi muda sekarang tidak ada yang mau menjadi sikerei. Hal itu disampaikan salah seorang sikerei Hariadi (55 tahun) yang pernah menjadi kepala desa Matotonan selama 2 periode dan ini hasil laporan Ketua Kelompok sadar Wisata Bola’lak Desa Matotonan, Nasrullah Stitoitet.
“Pelaksanaan hari jadi Desa matotonan diharapkan tahun depan lebih baik lagi dan di tingkatkan. “Semoga dengan adanya gagasan destinasi pariwisata yang baru ini menjadi pemicu perekonomian masyakat Desa’ ucapnya.
Disebutkan kami sadar selama ini dan juga sudah menggerakan ekonomi masyarakat seperti bidang pertanian, perikanan dan perkebunan, namun belum juga membuahkan hasil. Harapan kedepan masyarakat bisa berperan aktif dalam mewujudkan ekonomi kreatif sebagai icon pariwisata di Desa.

Dalam mewujudkan desa wisata, kata dia perlu memahami sapta pesona dan memulai dari kesadaran nasyarakat Desa, sehingga hasil yang dicapai maksimal sesuai harapan dan tujuan pemerintah dalam hal mengentaskan kemiskinan.
Sebagai kelompok yang bergerak dibidang wisata merupakan representatif Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kepulauan Mentawai.
“Kami bekerja keras untuk tahun depan dan merencakan melaksanakan festival turuk laggai se-Siberut Selatan untuk menumbuh kembangkan minat anak-anak sanggar cinta pada budayanya. tutupnya mengakhiri.
Pewarta : Nasrullah Siritoitet
Editor : Heri Suprianto















