Matasumbar.com – Enam bulan setelah bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Padang Pariaman, sebagian warga di Korong Palayangan, Nagari Balah Hilir, Kecamatan Lubuk Alung, masih berjuang untuk mendapatkan air bersih, karena layanan PDAM belum juga normal.
Wir dan Eti, pasangan suami istri warga Korong Palayangan, mengungkapkan bahwa sejak jaringan air PDAM terputus akibat bencana, hingga kini air belum kembali mengalir ke rumah.
“Sudah enam bulan pasca banjir, hingga sampai saat ini air PDAM belum mengalir kerumah warga termasuk dirumah kami, untung ada sumur di Surau Palayangan dan seluruh masyarakat setempat mengambil kebutuhan air dari surau itu,” ujar Wir kepada awak media
Menurut Wir, keberadaan sumur surau menjadi penyelamat bagi warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, hingga memasak.
Saat ditanya apakah kondisi tersebut membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih sulit, Eti mengaku beban pekerjaan rumah tangga menjadi bertambah.
“Jelas jadi sulit lah. Jadi bertambah beban dan pekerjaan. Untuk kebutuhan sehari-hari kami harus mengambil air dulu dari surau. Semua jadi lebih repot dibandingkan ketika air PDAM masih mengalir normal” ketusnya.
Keluhan serupa juga dirasakan banyak warga lainnya yang hingga kini masih bergantung pada sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka.
Menanggapi kondisi tersebut, awak media konfirmasi dengan Direktur PDAM Padang Pariaman, Aznil Mardin. Menurutnya, pembangunan sumur bor dan perbaikan infrastruktur utama yang rusak akibat bencana merupakan pekerjaan yang dilaksanakan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.
“Kalau sumur bor, menunggu jadwal serah terima dari kementerian,” ujar Aznil.
Ia menjelaskan bahwa PDAM telah berupaya mengusulkan perbaikan melalui mekanisme yang berlaku dan usulan tersebut telah mendapat persetujuan.
“Kami di PDAM sifatnya sudah berjuang dengan proposal pengajuan, dikabulkan, terus dikerjakan oleh kementerian. Dan sekarang menunggu serah terima dari kementerian kepada kami melalui pemerintah daerah. Seperti itu alur pembangunan kalau di PDAM,” jelasnya.
Menurut Aznil, PDAM hanya dapat melakukan perbaikan secara mandiri untuk kerusakan yang nilainya relatif kecil.
“Kecuali perbaikan-perbaikan kecil yang sifatnya puluhan juta rupiah, itu bisa kami lakukan sendiri,” tambahnya.
Meski demikian, bagi masyarakat yang sudah enam bulan mengalami kesulitan air bersih, persoalan utama bukanlah siapa yang mengerjakan proyek atau bagaimana mekanisme birokrasinya. Yang mereka harapkan adalah kepastian kapan air bersih kembali mengalir ke rumah-rumah mereka.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Karena itu, warga berharap proses serah terima dan pengoperasian fasilitas yang telah dibangun dapat segera diselesaikan, sehingga penderitaan masyarakat pasca bencana tidak terus berlarut-larut.
Hingga kini, sumur Surau Palayangan masih menjadi tumpuan harapan warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari sambil menanti layanan PDAM kembali normal, (Budi)
Editor : Tim Redaksi













