PESSEL, MataSumbar.com – Kondisi gedung pasar semi modern di Pasar Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat yang dibangun tahun 2017 lalu, kian memprihatinkan. Sebab, sejak usai dibangun, gedung itu belum ditempati pedagang secara permanen, dan hanya bertahan sebentar setelah itu ditinggal kembali.
Informasi yang diterima awak media, kekinian gedung semi modern atau los Pasar Kambang yang dibangun pemerintah itu ditinggal kosong, bukan lantaran akibat COVID-19. Namun, bangunan pasar senilai Rp 5,8 miliar yang dibangun melalui dana Tugas Perbantuan (TP) pemerintah pusat ini, ditinggal karena lantaran pedagang tidak nyaman di dalamnya.
Andi (45), pegadang pasar mengaku, gedung pasar itu sudah tidak lagi ditempati, sejak 8 bulan lalu. Sebab selama di dalam gedung, pedagang merasa tidak ada aktivitas jual-beli dan ruangan didalamnya juga pengap karena tertutup.
“Alasannya tidak nyaman. Petak-petaknya sempit, selain itu panas, dan pengunjung yang datang tidak terlihat dari luar. Jadi bagaimana mau berdagang,” ungkapnya saat ditemui awak media.
Pantauan awak media, Senin 13 April 2020, tampak gedung pasar yang dibangun pemerintah itu seperti tidak terurus lagi. Selain semrawut, fasilitas yang ada terlihat kotor.
“Ya, karena sudah lama ditinggalkan. Jadi kondisinya seperti itu. Sebelum ada dua sampai tiga orang yang bertahan. Tapi, karena tidak tahan, ya kembali ditinggalkan,” ujarnya.
Salah seorang pengujung, Suharyadi (46) mengaku miris melihat kondisi bangunan pasar tersebut. Sebab, hingga kini los pasar semi modern di Lengayang itu belum juga ditempati pedagang secara permanen. Padahal, anggaran yang digunakan cukup besar untuk membangunnya.
Ia menjelaskan, jika konstruksi bangunannya yang menjadi kendala, Pemkab harus bisa mencarikan solusinya. Sebab, jika tidak bangunan itu bisa sia-sia karena pedagang yang akan menghuninya tidak betah sama sekali.
“Ya, daripada pedagang terus-terusan keluar masuk. Lebih baik dibongkar saja, dan direnovasi kembali sesuai keinginan pedagang. Supaya pedagang bisa nyaman dan gedung yang dibangun pemerintah tidak sia-sia,”ujarnya.
Sebelumnya, kondisi serupa sudah terjadi 2019 lalu, di mana sejak mulai diizinkan menempati, kondisinya sudah tinggal kosong. Sebab dengan alasan yang sama, pedagang konstruksi tidak representatif dan aktivitas jual-beli jauh menurun dari kondisi pasar sebelumnya.
Terpisah, Kepala Dinas Koperasi UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Pesisir Selatan , Azral mengaku, saat ini pihak sedang mencarikan solusi supaya gedung pasar itu kembali dihuni. Namun, lantaran COVID-19, pihaknya terpaksa menunda dulu, sebab, alasan pedagang tidak bertahan, ungkapnya banyak alasan.
“Jadi untuk menertibkan, rencana kami sekalian aja setelah corona ini. Kita tata kembali, dibagi petaknya. Karena banyak masyarakat kita, yang minat hanya bagian depan saja. Jadi supaya adil
akan kita undi melalui cabut lot. Dan pedagang bisa memilih sesuai rezkinya,” jelasnya saat dikonfirmasi awak media .
Menanggapi, terkait mengganti bangunan, Ia menjelaskan, pemkab tidak berwenang untuk mengubah bantuan yang sudah berikan pemerintah pusat. Sebab, setiap yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat, dan pemerintah daerah hanya menjalaninya.
“Karena, itu pasar TP, pasar pemberian dari pemerintah pusat. Daerah tidak bisa menentukan modelnya. Namanya, bantuan dari pusat, tidak bisa diubah. Dan kini, kita dapat kembali Pasar Lakitan, dana TP juga. Memang, sudah seperti itu modelnya,” ujarnya.
Diketahui, peletakkan batu pertama pasar ini sebelumnya dilakukan langsung oleh Bupati Hendrajoni pada Minggu 20 Agustus 2017 lalu. Targetnya, pembangunan pasar dengan biaya Rp 5,8 miliar itu diharapkam menjadi pasar representatif dan bermanfaat bagi pengunjung dan pedagang,”tutupnya.(Topit Marliandi).











