Matasumbar.com – Meski di hadapkan dengan kondisi yang menantang adrenalin, anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty yang berangkat dari Jakarta menuju Kepulauan Mentawai menjadi sebuah tantangan sendiri untuk bisa melihat secara langsung daerah pelosok Pulau Siberut.
Kegiatan yang di lakukan tersebut dalam rangka kunjungan kerja, dimana perjalanan menuju pedalaman Siberut itu, Lolly Suhenty di dampingi Kordiv P2H Bawaslu Sumbar, Muhammad Khadafi, Ketua Bawaslu Mentawai, Nasrullah Siritoitet, Perius Sabaggalet dan Analis SDM, Mansyur SKB.
Perjalanan menuju Desa Matotonan rombongan tidak hanya di hadapi dengan gelombang laut yang cukup ekstrem juga di hadapkan dengan gelombang jalan dan kemudian di lanjutkan dengan menggunakan dengan armada pompong hingga sampai tempat lokasi kegiatan.
Kunjungan kerja, Lolly Suhenty selain mendeklarasikan kampung pengawasan Partisipatif juga mengunjungi sejumlah rumah adat yang ada di desa Matotonan yang di kenal dengan banyak pengunjung datang ke daerah hulu tersebut.
Kehadiran beliau di desa Matotonan di sambut hangat oleh Kepala Desa Matotonan, Ali Umran bersama tokoh masyarakat yakni para Sikerei yang disuguhkan dengan turuk kerei saat di lakukan penyambutan di balai desa Matotonan, Minggu (19/10/2025).
Kordiv Pencegahan Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat (P2H) Bawaslu RI, Lolly Suhenty dalam sambutannya menyampaikan, pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga demokrasi, tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pelosok negeri seperti desa Matotonan.
“Menjaga demokrasi tidak cukup dari perkotaan saja, tapi harus dimulai dari Bapak, Ibu, dan saudara-saudara kita yang ada di daerah pelosok Mentawai” ucap Lolly.
Dikesempatan itu, Lolly mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat Mentawai dalam pemilu tahun 2024 termasuk pemilu yang akan di hadapkan beberapa tahun lagi. Ini mencerminkan kesadaran politik warga terhadap masa depan bangsa.
“Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3 T) seperti mentawai harus menjadi perhatian bersama dalam memperkuat sendi-sendi demokrasi di Indonesia” ucapnya.
Dalam deklarasi kampung pengawasan Partisipatif Desa Matotonan ini, Lolly berharap menjadi percontohan bagi kampung pengawasan lainnya, terutama di wilayah pelosok Mentawai.
“Kita berharap Desa Matotonan ini menjadi percontohan pengawasan partisipatif bagi kampung yang lain khususnya di daerah pelosok Mentawai, sehingga pengawasan partisipatif ini menginspirasi untuk Indonesia” tuturnya.
Lebih lanjut di sampaikan, bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki suku Mentawai salah satunya tato tertua didunia merupakan sumber inspirasi bagi Bawaslu dalam membangun budaya demokrasi.
“Apa yang saya lihat dan saksikan hari ini dari tarian yang menyambut saya, mulai pemasangan kalung (Inu) dan ikat kepala (luat) membuat saya merasa sudah menjadi bagian dari Matotonan serta menjadi kebanggan sendiri bisa hadir ditengah masyarakat Mentawai” tuturnya.
Dengan deklarasi ini, Desa Matotonan resmi menjadi bagian dari jejaring nasional Kampung Pengawasan Partisipatif, sebuah inisiatif Bawaslu yang bertujuan membangun demokrasi berintegritas berbasis masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
Editor : Tim Redaksi















